Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Serba-serbi: Kaya Raya Meski Tidak Dalam Tumpukan Harta

Written By VisiOn Center on Kamis, 22 September 2016 | 23.39.00

Kaya Raya Meski Tidak Dalam Tumpukan Harta, Haruskah Kaya Untuk Memulai Berbagi Dengan Sesama???

Namanya BAI FANG LI. Ia adalah seorang tukang becak di Tianjin, China. Di sepanjang hidupnya, ia mencari nafkah dengan mengayuh becak, memberi pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan transportasi murah dari satu tempat ke tempat lain.

Bai Fang Li, tukang becak yang dermawan, yang menjadiPenyumbang Ratusan Juta untukYatim Piatu, tidak perlu membesar-besarkan sudah berapa banyak kita menyumbang orang karena mungkin belum sebanding dengan apa yang sudah dilakukan oleh Bai Fang Li ini. Kebanyakan dari kita menyumbang kalau sudah kelebihan uang. Jika hidup pas-pasan keinginan menyumbang bahkan tak pernah ada.

Tubuhnya kecil, bahkan terlalu kecil dibandingkan dengan sesama tukang becak lainnya. Namun, ia sangat energik dan antusias. Setiap hari ia memulai rutinitasnya pada pukul 6 pagi, mengelilingi kota dengan becaknya untuk mencari penumpang atau mengantar mereka ke tempat tujuannya. Ia bekerja sepanjang hari, Bai Fang Li jarang pulang sebelum pukul 8 malam.

Semua pelanggan menyukai Bai Fang Li karena ia ramah dan murah senyum. Ia tidak pernah menentukan biaya yang harus dibayar oleh pelanggannya, tapi ia bergantung pada kemurahan hati para pelanggan untuk membayar jasanya. Karena hati yang baik, orang-orang lebih memilih untuk menggunakan jasanya lebih dari yang lain. Banyak dari mereka yang bersedia untuk membayar lebih daripada tarif biasanya. Mungkin juga ini karena mereka melihat betapa keras ia, dengan tubuh kecilnya, harus mengayuh becak dengan susah payah sampai napasnya terasa berat.

Bai Fang Li tinggal di sebuah gubuk tua reyot di daerah kumuh di kota Tianjin. Di dalam gubuk itu hanya ada satu ruangan dimana ia harus menyewa dan berbagi tempat bersama dengan beberapa orang tukang becak, para penjual asongan dan pemulung lainnya. Gubuk itu pun bukan miliknya, karena ia menyewanya secara harian. Perlengkapan di gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah tikar tua yang dipakainya untuk tidur setelah seharian bekerja menarik becak. Di ruangan ini juga, ia hanya memiliki sebuah kotak kardus tua tempat ia menyimpan selimut tua miliknya yang sudah lusuh dan penuh jahitan. Ada juga piring dan cangkir kaleng, yang ditemukannya di tumpukan sampah di sekitar gubuk, yang dipakainya untuk makan dan minum. Di sudut pondok, ada sebuah lampu minyak untuk memberikan penerangan di malam hari.

Bai Fang Li tidak memiliki keluarga atau kerabat di kota tempat tinggalnya. Orang-orang hanya tahu bahwa ia datang dari kota lain. Namun, ia tidak pernah merasa kesepian karena selalu dikelilingi oleh orang-orang yang menyukainya. Mereka mencintainya karena sikap positif dan kemurahan hatinya. Dia membantu orang yang membutuhkan bantuan, dan melakukannya dengan sukacita tanpa mengharapkan imbalan apa pun.

Dari penghasilannya sebagai tukang becak yang meskipun tidak seberapa, seharusnya ia mampu membeli makanan dan pakaian yang lebih baik. Namun, ia malah menyumbangkan sebagian besar penghasilannya untuk sebuah panti asuhan di Tianjin yang menangani lebih dari 300 anak yatim piatu. Juga untuk sekolah yang dikelola oleh panti asuhan tersebut .

Sebuah Peristiwa Yang Membuat Hatinya Terharu

Bai Fang Li mulai menyumbang untuk panti asuhan pada tahun 1986, yaitu di saat usianya mencapai 74 tahun. Ini adalah kisah bagaimana hatinya tersentuh dan bagaimana ia membuat keputusan untuk melakukan apa yang telah ia lakukan sekarang.

Pada suatu hari Bai Fang Li sedang beristirahat sejenak setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia melihat di jalan, ada seorang anak laki-laki kurus berumur kira-kira enam tahun sedang menawarkan bantuan kepada seorang wanita untuk membawakan belanjaannya. Ia melihat anak kecil ini membawa tas belanjaan yang berat dengan susah payah, tapi juga terlihat bersemangat untuk melakukan pekerjaannya dengan baik. Ada senyum lebar terlukis di wajah anak itu ketika telah berhasil menyelesaikan tugasnya dan menerima uang sebagai imbalan atas jasanya. Anak ini mendongak ke langit menggumamkan sesuatu seolah-olah ia sedang berdoa dan mengucap syukur atas berkat yang baru saja diterimanya. Bai Fang Li menyaksikan anak itu membantu beberapa orang yang sedang berbelanja di pasar, dan setiap kali menerima pembayaran atas jasanya, ia mendongak ke langit dan menggumamkan sesuatu.

Kemudian, Bai Fang Li melihat anak itu pergi ke tumpukan sampah dan menggali seolah mencari sesuatu. Ketika behasil menemukan sepotong roti kotor, anak itu terlihat begitu senang. Ia membersihkan roti itu sebaik-baiknya, lalu memakannya seolah-olah itu adalah sepotong roti yang datang dari sorga. Hati Bai Fang Li sangat tersentuh dengan apa yang dilihatnya. Ia mendekati anak itu dan menawarkan untuk berbagi makan siang dengannya. Bai Fang Li bertanya mengapa anak itu tidak membeli makan siang yang layak dengan uang yang diperoleh tadi. Anak itu berkata, "Saya akan menggunakan uang itu untuk membeli makanan untuk adik-adik saya." Bai Fang Li bertanya, "Di mana orang tuamu?" Anak itu menjawab, "Orang tua saya sehari-hari bekerja sebagai pemulung di tempat pembuangan sampah. Namun, semenjak satu bulan yang lalu, mereka menghilang dan saya belum pernah melihat mereka lagi. Jadi, saya harus bekerja untuk menghidupi diri sendiri dan juga kedua adik saya.."

Bai Fang Li meminta anak itu untuk membawanya menemui saudara-saudara perempuannya. Bai Fang Li menangis ketika melihat kedua gadis itu, berumur 5 dan 4 tahun. Gadis-gadis itu begitu kotor dan kurus, dan pakaian mereka sangat lusuh dan kotor. Para tetangga tidak peduli dengan kondisi ketiga anak itu karena mereka juga sedang berjuang untuk mengatasi masalah kehidupan mereka sendiri.

Bai Fang Li membawa ketiga anak itu ke sebuah panti asuhan di Tianjin. Dan mengatakan kepada manajer panti asuhan bahwa ia akan memberikan uang yang didapatnya ke panti asuhan untuk membantu anak-anak di sana mendapatkan makanan, perawatan dan pendidikan yang layak. Sejak itu Bai Fang Li memutuskan untuk bekerja lebih keras dan dengan tekad yang lebih dalam, mengayuh becak untuk mendapatkan uang guna membantu anak-anak di panti asuhan. Ia mulai bekerja lebih awal dan pulang terlambat untuk mendapatkan uang ekstra. Dari semua pendapatannya setiap hari, ia menyisihkan sedikit untuk membayar sewa gubuk kecilnya. Kadang-kadang untuk membeli sedikit makanan. Sisa pendapatan disumbangkannya semua ke panti asuhan untuk membantu mereka memberi makan dan merawat anak-anak
Ia sangat senang melakukan semua hal ini meskipun dengan segala keterbatasannya. Ia justru merasa bahwa adalah sebuah kemewahan bahwa ia masih punya tempat tinggal, makanan untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, meskipun pakaian itu ia dapat dengan memulung dari tempat pembuangan sampah. Ia selalu bersyukur atas apa yang dimilikinya.

Bai Fang Li tidak pernah libur, ia bekerja sebagai tukang becak 365 hari setahun, tanpa mempedulikan cuaca, ia tetap bekerja meskipun hawa dingin di saat turun salju atau ketika matahari bersinar sangat terik dan panas. Ketika ditanya mengapa ia bersedia mengorbankan begitu banyak, ia selalu berkata, "Saya selalu merasa menyesal bahwa saya bodoh dan tidak berpendidikan, tidak masalah kalau saya menderita, asalkan anak-anak itu memiliki sesuatu untuk dimakan dan dapat memiliki pendidikan yang layak untuk masa depannya nanti. Saya merasa bahagia dengan melakukan.

Melihat semangatnya untuk menyumbang, Bai Fang Li memang orang yang luar biasa. Ia hidup tanpa pamrih dengan menolong anak-anak yang tak beruntung. Meski hidup dari mengayuh becak (jika diukur jarak mengayuh becaknya sama dengan 18 kali keliling bumi), ia punya kepedulian yang tinggi yang tak terperikan.

Memberi Tanpa Pamrih

Bai Fang Li mulai memberikan sumbangan kepada panti asuhan sejak 1986. Ia tidak pernah meminta imbalan apa pun. Ia bahkan tidak tahu anak yang mana yang diuntungkan dari sumbangannya. Selama 20 tahun berikutnya, Bai Fang Li mengayuh becaknya untuk satu tujuan: memberikan sumbangan kepada anak-anak di panti asuhan untuk membantu mereka hidup dengan lebih baik. Selama 20 tahun, secara total ia telah menyumbangkan penghasilannya sebanyak RMB 350.000 (sekitar Rp 500 Juta) ke panti asuhan.

Ketika usianya mencapai 90 tahun, ia membawa seluruh sisa tabungannya sebanyak RMB 500 (sekitar Rp 750.000) ke sebuah sekolah panti asuhan bernama Yao Hua. Tidak banyak, tapi itu adalah seluruh uang yang dimilikinya.

Bai Fang Li berkata dengan sedih, "Saya sekarang sudah terlalu tua dan lemah, saya tidak kuat lagi mengayuh becak, dan tidak dapat melanjutkan memberi sumbangan. Ini mungkin adalah sumbangan terakhir saya" Semua guru dan siswa di sekolah itu tersentuh dan menangis mendengarnya.

Pada bulan Mei 2005, di usianya yang ke 93, Bai Fang Li di diagnosa mengidap kanker paru-paru. Ia meninggal di rumah sakit setempat empat bulan kemudian. Ratusan orang yang menghadiri pemakamannya menangis, mereka merasa sangat kehilangan ditinggalkan oleh orang tua yang baik hati itu. Ribuan orang lainnya merasa tersentuh oleh pengabdiannya yang tidak kenal pamrih. Bai Fang Li meninggal dalam keadaan miskin, ia tidak meninggalkan apapun selain semangat pengabdian dan cinta tulusnya kepada sesama. Anaknya, Bai Jin Feng, baru tahu kalau selama ini ayahnya menyumbang ke panti asuhan.
23.39.00 | 0 komentar | Read More

Artikel Sukses: 8 Kisah Inspiratif Pengusaha Sukses Indonesia

Belakangan ini banyak orang mulai lebih melirik dunia usaha ketimbang menjadi karyawan suatu perusahaan. Kesuksesan finansial yang bisa diperoleh dari membangun usaha sendiri mendorong orang untuk memilih memulai usaha mereka sendiri. Banyak kisah sukses para pengusaha yang mulai dari nol dan harus melewati jalan panjang dan berliku sebelum akhirnya meraih kesuksesan yang bisa menjadi inspirasi bagi Anda yang ingin menjajal dunia wirausaha. Di sini Anda bisa menyimak kisah sukses 8 orang pengusaha dari tanah air yang berskala menengah hingga besar, tua maupun muda, yang rata-rata memulai dari bawah dan serba sulit sebelum mencapai kesuksesan yang sekarang.

1. Bob Sadino

Terlahir di Lampung, 9 Maret 1939, mendiang pengusaha dengan nama lengkap Bambang Mustari Sadino ini termasuk salah satu pengusaha sukses yang sempat mengalami jatuh-bangun sebelum akhirnya menorehkan kesuksesan besar. Setelah sekitar sembilan tahun menjadi pegawai, Bob memutuskan untuk berhenti dan banting setir menjadi pengusaha. Usaha pertama yang dirintisnya adalah bisnis penyewaan mobil, dengan hanya bermodalkan satu mobil Mercedes dan ia supiri sendiri.

Namun karena musibah kecelakaan yang menimpanya saat mengemudikan mobil yang disewakannya itu, bisnis itupun berhenti di tengah jalan. Tidak putus semangat, ia kemudian beralih profesi sebagai buruh bangunan yang dibayar dengan upah harian. Saat menjadi kuli tersebut, ia melihat adanya peluang bisnis yang lain, bisnis ternak ayam dan telur ayam negeri. Dengan modal pinjaman tetangganya, akhirnya Bob mulai menjalankan bisnis tersebut. Awalnya, Bob menawarkan sendiri dagangannya dari rumah ke rumah di wilayah sekitar tempat tinggalnya, terutama kepada para ekspatriat, di bilangan Kemang, Jakarta Selatan.  Bisnis telurnya tersebut akhirnya berbuah manis dan ia mengembangkan sayap dengan menjual daging dan sayuran hidoponik. Berkat keuletannya, bisnis tersebut sukses dan ia pun mendirikan Kem-Chicks, supermarket ternama yang menjual berbagai macam produk peternakan dan pertanian. Meski sudah sukses, ia tetap tampil sederhana dan kerap kali melayani sendiri para pelanggannya seperti keluarganya sendiri.

2. Susi Pudjiastuti

Perempuan kelahiran 1965 yang sekarang menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan RI di bawah Presiden Jokowi ini adalah seorang pengusaha yang terkenal tegas. Ia merintis bisnisnya di bidang perikanan dan kemudian maskapai penerbangan dari nol. Setelah memilih untuk berhenti sekolah sebelum lulus SMA, ia memulai usahanya sebagai pedagang pakaian dan bed cover. Setelah melihat potensi wilayah tempat tinggalnya, Pangandaran, sebagai penghasil ikan, Susi lantas memanfaatkannya sebagai peluang bisnis dan beralih ke usaha perikanan. Dengan modal hanya Rp750 ribu hasil dari menjual perhiasannya, ia mulai membeli ikan dari tempat pelelangan dan memasarkannya ke sejumlah restoran. Setelah sempat tersendat, bisnis Susi akhirnya berhasil menguasai bursa pelelangan ikan di Pangandaran dan bahkan kemudian merambah ke ekspor ikan dan lobster.

Bisnis maskapai penerbangannya juga berawal dari bisnis perikanan tersebut. Untuk mengatasi masalah pengiriman ikan yang lambat apabila lewat darat atau laut, Susi membeli sebuah pesawat dari pinjaman bank untuk pengangkutan produk lautnya, yang kemudian berkembang menjadi armada maskapai penerbangan Susi Air yang melayani rute pedalaman dan carter.

3. Reza Nurhilman

Bagi yang belum mengenal nama ini, mungkin Anda lebih mengenal “kripik setan” Maicih. Ya, Reza Nurhilman adalah nama pemuda yang berada di belakang produk keripik singkong ekstra pedas yang populer itu. Reza memulai bisnis keripik singkong ini pada pertengahan 2010 seorang diri saat berusia 23 tahun dengan modal awal 15 juta rupiah. Untuk bisnisnya ini, ia menggandeng satu produsen keripik lokal di Bandung.

Reza mengawali bisnisnya ini dengan melakukan pemasaran sederhana, yakni melalui platform media sosial, Twitter, sebelum mengembangkan sayap dengan menerapkan sistem keagenan yang menggunakan istilah Jenderal agar produknya bisa menggapai konsumen yang lebih luas. Para Jenderal ini memasarkan produknya dengan cara berkeliling atau nomaden.

Pemuda kelahiran Bandung 28 tahun yang lalu ini mengaku kunci kesuksesannya terletak pada cara berpikirnya yang out of the box, yaitu dengan tidak membuka toko seperti kebanyakan penjual sehingga membuat produknya eksklusif.  Melalui Twitter, para jenderal memberitahu informasi lokasi penjualan setiap harinya. Cara pemasaran yang cukup unik ini terbukti berhasil mengangkat nama Maicih di dunia maya. Baru setengah tahun saja, omzet Maicih bisa mencapai Rp7 miliar per bulan. Angka yang fantastis, bukan?

4. Sunny Kamengmau

Anda pernah mendengar tas tangan merek Robita? Tas Robita yang begitu populer di Jepang ini bahkan kabarnya menjadi idaman oleh semua kalangan sosialita di negara sakura itu. Orang yang berada di balik 'dapur' tas merek Robita ini adalah Sunny Kamengmau, pemuda asal Nusa Tenggara Timur (NTT). Siapa sangka pemuda yang tidak pernah lulus SMA itu akhirnya menjadi pengusaha sukses yang dapat menginspirasi siapa pun yang mendengar kisahnya.

Sunny mengawali bisnisnya dengan modal nekat. Setelah meninggalkan kampung halamannya dan pergi ke Bali, ia bekerja sebagai tukang sapu di sebuah hotel. Selang beberapa lama ia pun diangkat menjadi satpam karena dianggap memiliki etos kerja yang bagus. Selama itu, ia juga memanfaatkan waktunya untuk belajar bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Gaji pertamanya ia sisihkan untuk membeli kamus dua bahasa asing tersebut dan mempelajarinya dengan tekun. Keberuntungan mungkin memang berada di pihaknya sejak awal ia dipekerjakan di hotel tersebut, karena di sana ia berkenalan dengan seorang pengusaha asal Jepang yang kemudian memintanya untuk memasok tas kulit ke negaranya. Meski sempat terseok untuk beberapa lama, bahkan hampir kehilangan semua penjahit tas yang bekerja untuknya, Sunny perlahan bisa bangkit dan bisnis tasnya itupun kian diperkokoh hingga mampu memiliki 100 orang karyawan.

5. Gibran Rakabuming

Saat ini nama Gibran Rakabuming mungkin sudah dikenal oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia, di luar fakta bahwa ayahnya, Joko Widodo, adalah seorang presiden negara republik Indonesia. Gibran adalah pemilik sebuah bisnis di bidang catering dan wedding organizer dengan nama Chili Pari.

Sebelum menjabat menjadi Walikota Solo, kemudian Gubernur DKI jakarta, dan akhirnya Presiden RI, ayahnya, Joko Widodo merupakan pengusaha mebel. Namun, Gibran memilih untuk merintis usaha sendiri tanpa campur tangan ayahnya. Ia memulai usahanya dengan mengajukan pinjaman ke bank untuk modal. Meski sempat ditolak beberapa kali, akhirnya ia mendapatkan persetujuan dari salah satu bank dan dengan modal pinjaman tersebut ia pun memulai Chili Pari dengan melayani pesanan partai kecil. Berkat kemampuan dan keuletannya sendiri, sekarang Chili Pari sudah banyak menangani order besar dengan jumlah tamu hingga ribuan orang dan usaha Gibran pun semakin berkembang.

6. Nicholas Kurniawan

Nama Nicholas Kurniawan mungkin belum terlalu familiar di telinga Anda, namun saat ini di usianya yang masih sangat belia, 20 tahun, ia sudah sukses menjadi eksportir ikan hias termuda di Indonesia. Semua berawal dari kondisi keluarganya yang terpuruk dan terlilit utang, dan Nicholas pun berniat untuk mengubah nasibnya. Sempat mencoba berbagai bisnis mulai dari asuransi, makanan, MLM, dan mainan, jatuh bangun dan bahkan sempat tidak naik  kelas saat kelas 2 SMA, ia mulai bangkit kembali dan mencoba peruntungannya dengan menjual ikan hias secara online melalui situs Kaskus. Meski sempat beberapa kali ditipu oleh calon pembeli, bisnis ikan hias Nicholas kini sudah menjangkau luar negeri dan dalam sebulan omzetnya bisa mencapai lebih dari Rp100 juta.

7. Hamzah Izzulhaq

Pemuda kelahiran 1993 ini sudah membuktikan diri sebagai pengusaha muda yang sukses. Sejak kecil, ia sudah terlihat memiliki bakat berbisnis, yakni dengan berjualan kelereng, petasan, hingga koran. Ia juga pernah menjadi tukang parkir dan ojek payung. Saat tengah mengikuti seminar bisnis pelajar ketika masih duduk di bangku SMA, Hamzah ditawari usaha waralaba bimbingan belajar oleh seorang pemuda yang juga masih muda namun sudah memiliki bimbingan belajar dengan 44 cabang. Dengan bermodal uang Rp5 juta dan pinjaman Rp70 juta dari ayahnya, ia membeli salah satu cabang yang kebetulan ditawarkan untuk diambilalih seharga Rp175 juta. Sisanya yang sebesar Rp100 juta dibayar dengan dicicil dari keuntungan setiap semester. Usahanya itu semakin berkembang, dan kini Hamzah sudah memiliki 3 lisensi waralaba bimbel dengan jumlah siswa di atas 200 orang setiap semester. Sejak akhir 2011, bisnis Hamzah telah resmi berbadan hukum dengan nama CV Hamasa Indonesia. Pemuda 22 tahun ini menjabat sebagai direktur utama.

8. Yasa Singgih

Terlahir dari keluarga biasa-biasa saja, anak kelahiran 1995 ini memutuskan untuk terjun ke dunia bisnis sejak sangat belia. Sejak berusia 15 tahun, setelah ayahnya terkena serangan jantung dan harus dioperasi, ia mulai mencari uang sendiri dengan menjadi pembawa acara di berbagai acara ulang tahun dan musik. Selain itu, masih di usia yang sama, ia mulai berbisnis online dengan menjual lampu hias, namun tidak bertahan lama karena persoalan pemasok. Setahun kemudian, di usia 16 tahun, Yasa beralih ke bisnis mode. Sempat jatuh bangun dan diremehkan orang, hingga rugi ratusan juta rupiah dari berbagai bisnis, sebelum akhirnya ia berhasil membangun brand pakaian sendiri dengan mengusung nama Mens Republic. Selain itu, ia juga mengelola usaha konsultasi manajemen bernama MS Consulting serta kompleks perumahan dalam bentuk kavling tanah di Bogor.

Anda pun Bisa Jadi Pengusaha Sukses

Bagaimana, sangat inspiratif bukan? Memang banyak yang mengatakan tidak semua orang punya bakat jadi pengusaha, namun menilik dari kisah-kisah di atas, dapat disimpulkan bahwa kesuksesan merupakan hasil dari kerja keras, bukan murni dari bakat. Semoga kisah-kisah inspiratif para pengusaha sukses di atas dapat Anda petik hikmahnya dan menjadi suatu motivasi bagi Anda untuk mencoba sendiri terjun di dunia usaha yang tak ada batasnya ini. Semoga Anda pun bisa menjadi pengusaha yang sukses seperti mereka!

Sumber artikel: www.cermati.com
11.54.00 | 0 komentar | Read More